Sebuah cinta yang membara bisa membuat semua angan-angan
terbang begitu saja, merasakan keindahannya. Tapi terkadang berujung begitu
sial. Ku katakana cinta itu tak selalu bahagia, justru terkadang cinta itu
sendirilah yang mematahkan kebahagiaan.
Aku tidak pernah ingin menikmati cinta yang semu. Karna akan
sangat menyebalkan bila aku merasakannya, menganggangguku, dan membuat urusanku
berantakan. Itu yang ku amati, tapi aku tak pernah mencobanya. Malas.
Sore ini, di tengah keramaian kota yang penuh sesak oleh
manusia yang sibuk dengan urusannya masing-masing. Aku duduk di sebuah halte
yang biasa aku datangi untuk menunggu Bis untuk pulang ke kontrakanku. Ya.. aku
memang tidak punya rumah. Rumahku sudah lenyap terbakar bersama kedua orang
tuaku, aku hanya ditemani seorang paman yang itupun aku tidak satu rumah
dengannya. Tapi jarak rumahnya dari kontrakanku tidak begitu jauh. Jadi, aku
mudah jika membutuhkannya.
“Kau seharusnya lebih mengerti keadaanku!” Teriakan seorang
wanita, membuat semua orang yang berada di halte, memperhatikannya, termasuk
aku. Wanita itu menangis seraya menatap lelaki yang berada di hadapannya penuh
dengan kebencian.
“Aku sudah memberi pengertian pengertian kepadamu, tapi kau
sendiri yang tak pernah mengerti aku!” Sahut lelaki itu lebih kasar.
“Sudahlah, aku ingin mengakhiri hubungan ini” Bentak wanita
itu dengan suara yang tercekat. Lelaki itu hanya terdiam. Mungkin dia sudah
terlalu muak dengan wanita yang berada dihadapannya itu. Lelaki itu pun pergi
dengan bodohnya meninggalkan wanitanya yang menangis.
Psangan yang bodoh. Benakku terlalu dalam.
Bis yang ku tunggu pun datang. Aku masuk ke dalam Bis, lalu duduk disalah satu kursi yang terbiasa aku menempatinya. Kursi itu seperti sudah di sediakan hanya untukku. Kursi yang ku tempati dengan dengan jendela bis, aku lebih suka memandang ke jalanan selama di perjalanan. Bis pun mulai berjalan. Begitu pun aku mulai membuka buku bacaanku.
Bis yang ku tunggu pun datang. Aku masuk ke dalam Bis, lalu duduk disalah satu kursi yang terbiasa aku menempatinya. Kursi itu seperti sudah di sediakan hanya untukku. Kursi yang ku tempati dengan dengan jendela bis, aku lebih suka memandang ke jalanan selama di perjalanan. Bis pun mulai berjalan. Begitu pun aku mulai membuka buku bacaanku.
Tiba-tiba Bis berhenti seketika, membuat tubuhku sedikit
terhempas kedepan, tapi untung saja aku bisa mengendalikannya. Ku benah kan
posisiku dengan nyaman.
“Nona..” Panggil seseorang ke arahku, membuat aku
mengalihkan pandanganku dari buku, lalu menoleh ke arah suara yang memanggil
itu. Ternyata dia seorang lelaki, dengan perawakan yang tinggi, rapih, dan….
Tampan. Dia terlihat seperti perantau, tasnya begitu besar. Sepertinya Bis
berhenti karna, lelaki ini akan masuk ke dalam Bis.
“Ya?” sahutku, baru meresponnya.
“Boleh aku duduk di sebelahmu?” pinta lelaki itu dengan
ramah. Aku mengangguk.
Aku kembali focus membaca buku bacaanku, yang terputus oleh
lelaki jangkung itu. Lama aku membaca, aku mulai bosan, lalu menutup buku itu
dan menyimpannya ke dalam tasku. Aku memandangi
jalanan dengan penuh rasa bosan. Tapi tiba-tiba….
“Kau mau?” lelaki itu menyodorkan sebatang coklat
kehadapanku. Aku tertegun, coklat? Itu kesukaanku. Tapi aku tidak terbiasa
menerima coklat dari orang yang belum aku mengenalnya. Aku pun meliriknya.
“Tidak, terimakasih” balasku menolak coklat yang menggiurkan
itu. Lelaki itu membalas jawabankku dengan tersenyum pahit. Dasar lelaki aneh,
baru di tolak coklat saja sudah memasang wajah kecewa.
Bis ini tidak berjalan. Ya! Ini macet. Huft.. menyebalkan.
Kantukku mulai datang, lebih baik jika aku tidur saja.
(Adit’s POV)
Jalanan begitu padat, membuat Bis ini tak bisa melaju. Ku
pandangi wanita yang sedang tertidur pulas di sebelahku. Kepalanya bersandar di
kursi. Dia amat manis dan sangat anggun. Tapi sepertinya tingkahnya terlihat
lebih dingin, dan kurang bersahabat. Penolakan coklat itu, membuatku tahu bahwa
dia memang tidak suka dengan seseorang yang baru saja datang menemuinya. Sayang
sekali. Kembali ku memandangi jalanan yang berada didepanku.
Pluk
Aku terkejut, dengan jatuhnya kepala wanita itu di bahuku,
ku melihat kearahnya, kulihat dia membenahi sandarannya dibahuku dengan mencari
posisi yang nyaman. Ya Tuhan, apa wanita ini benar-benar tidak sadar?! Ini
membuat jantungku berdekup begitu kencang. Sudahlah, biarkan wanita ini nyaman
di bahuku. Aku sedikit tersenyum.
Tidak sampai lima menit, wanita itu sudah bangun. Dia
menggeliat, mungkin bahuku terlalu tinggi untukknya. Membuat pegal. Aku melirik
ke arahnya dengan tersennyum geli. Dia mulai melirikku dengan bingung.
“kenapa kau melihatku seperti itu?” tanyanya dengan ekspresi
wajah yang jutek.
“ng… ti,tidak” balaskku, lalu memalingkan pandanganku
darinya. Biarlah dia tidak ingat. Itu lebih baik.
***
Sesampainya aku di kontrakan rumah temanku. Ya aku memang
sengaja kekontrakannya karna dia yang meminta, Ray memang sahabat terbaikku.
“hai Ray” ucapku menyapanya yang sedang membersihkan motor
Vixionnya. Ray langsung menoleh ke arahku.
“Adit!” serunya langsung memelukku. Wajar saja aku sudah
empat tahun tidak bertemu dengannya, tempat kuliahku dengannya berbeda. “kau
baru sampai, bung?” tanyanya, yang mulai melepaskan pelukannya.
“Iya..” jawabku penuh senyuman.
“Masuklah” ajakanya.
Kontrakan itu tidak terlalu besar, dan tidak terlalu kecil,
jadi memang berukuran sedang. Saat aku masuk ke dalam. Ray terlalu menampakan
ke lelakiannya itu, dari kamarnya yang begitu berantakan. Sepertinya ini akan
menjadi tugas dalam keseharianku. Baiklah.
Setleah membereskan semua pakaianku, aku mengajak Ray
berbincang-bincang sambil menemaninya membersihkan Motor Vixionnya yang belum
selesai.
“Wah… baru datang saja kau kesini, sudah menemukan wanita
cantik aja. Aku saja yang sudah bertahun-tahun disini. Tak pernah mendapatkan
wanita cantik” ujarnya seraya terkekeh.
“Aku memang selalu beruntung, bukan?” ledekku pada Ray. Ray
memang kurang beruntung jika berbicara masalah wanita, tapi soal pekerjaan dia
selalu yang lebih handal.
“hmm.. kau benar” ucap Ray, “siapa nama wanita yang baru kau
temui itu?? Tanya Ray.
“Entahlah aku tidak mengetahui namanya”
“Hah?! Bagaimana kau bisa bertemu dengannya lagi, kalau kau
saja tidak tahu namanya”
“hmm… mungkin aku memang tidak akan pernah bertemu dengannya
lagi” senyumku kecut.
“kau terlalu terburu-buru untuk menjauh, bisa saja kau
bertemu dengannya. Dan dari situlah kau tanyakan namanya”
Aku termenung mendengar perkataan Ray. Ada benarnya juga,
aku tidak boleh menyia-nyiakan wanita cantik seperti dia.
***
(Viola’s POV)
Pagi ini, aku harus berangkat lebih awal menuju kampus.
Dosen di jam pertamaku ini sangat mementingkan waktu. Aku hanya memakan
sepotong roti dan segelas air putih, dengan buru-buru kuraih tasku.
Sesampainya dikampus, syukurlah aku belum terlambat. Aku
duduk disebelah wanita yang sedang tertidur pulas dengan tangannya menopang
kepalanya di atas meja. Wanita itu sahabatku, Clara. Dia memang selalu
berangkat lebih awal dan menuntaskan pekerjaan tidurnya di kampus agar dia
tidak terlambat pergi ke kampus. Aku menggeleng melihat Clara, wanita gendut
yang pemalas, kerjaanya hanya makan, dan mengomentari orang lain.
“Clara bangunlah!” geretakku, membuatnya kaget, lalu
terbangun dari tidurnya. Matanya merah karna kantuk yang mendalam.
“Ha?! YA DOSEN ADA APA?!” serunya panik, dengan berdiri
tegak. Aku tersenyum menahan geli melihat tingkah Clara yang konyol itu.
“kemana dosen?” tanya Clara terlihat bingung, lalu kembali duduk, dan
menatapku. “kau….”
“ya aku yang membangunkanmu” ucapku datar.
“huh… sudah kuduga” balasnya menghela napas, sebal.
“Jangan dibiasakan Clara, nanti kalau suatu waktu aku tidak
ada di sampingmu, siapa yang akan mau membangunkanmu, huh?!”
“hmm… yah.. akan ku usahakan.”
***
“kau tidak lapar Viola?” tanya Clara yang sedari tadi
mengikutiku berjalan buru-buru untuk pergi ke Toko Percetakan. Aku menggeleng,
tak begitu menghiraukannya, “Padahal ini sangat nikmat” godanya seraya memakan
roti isi yang sangat tebal itu. Aku tidak peduli, yang aku butuhkan sekarang
hanya kertas-kertas tugasku di Toko itu.
(Adit’s POV)
Aku buru-buru pergi ke sebuah Toko Percetakan dengan membawa
berkas-berkas yang belum sempatku photocopy.
Jika aku terlambat bisa-bisa lamaranku akan ditolak, pastinya lamaran bekerja.
Sesampainya di Toko Percetakan, aku langsung menyerahkan
berkas-berkas itu pada petugas di Toko itu.
“Kau…” sapaan seseorang membuatku menoleh ke arahnya. Ya
Tuhan aku terperangah saat mengetahui ternyata seseorang yang menyapaku itu
wanita cantik di dalam Bis itu.
“Ah ya.. kau mengingatku?” tanyaku, seraya menggaruk-garuk
kepala yang tidak gatal, terlalu gugup.
“ya, kau lelaki perantau itu kan?” balasnya menerka.
“ah.. aku bukan seoramg perantau, memangnya aku bilang
padamu bahwa aku seorang perantau?” kembali ku bertanya. Dia menggeleng. Aku
balas dengan tersenyum.
“Baiklah, aku pergi dulu” ujarnya, lalu pergi bersama
temannya yang gemuk itu. Bodoh, aku lupa menanyakan namanya. Sudahlah.
(Viola’s POV)
“Viola, siapa lelaki yang kau sapa tadi?” tanya Clara.
“Entahlah..” jawabku tak melirik Clara.
“Kau tidak mengenalnya, huh?!”
“Tidak”
“Tapi, tadi kau menyapanya?”
“Ya..” jawabku semakin malas. Clara terlalu cerewet, membuat
langkahku berhenti, Clara ikut berhenti. Aku menatap Clara dengan tatapan
sebal, “Bisa kau diam manis? Sampai kita sudah di kantin, huh?” ucapku pada
Clara. Clara mengangguk takut. Aku kembali berjalan.
Sesampainya di kantin, Clara langsung pergi untuk membeli
makanan. Aku menunggunya disalah satu meja kantin dengan membaca-baca tugasku
yang baru saja aku dapatkan dari Toko Percetakaan itu. Tak lama Clara datang
dengan membawa dua bungkus roti isi dan dua minuman segar. Clara duduk di kursi
yang berada bersebrangan denganku.
“Ini untukmu” ucap Clara seraya memberikan makanan yang dia
bawa tadi.
“Trimakasih” balasku menerimanya.
“OKe… aku masih menyimpan banyak pertanyaan tentang lelaki
itu” Tukas Clara yang tidak mau melewati rasa penasarannya. Aku hanya
meliriknya, lalu mengerutkan keningku, perkataan Clara membuatku bingung,
“Kenapa kau menyapanya?” tanyanya.
“Kemarin aku bertemu dengannya di dalam Bis dan dia duduk
disebelahku, lalu dia menawariku coklat, tapi aku menolaknya” jelasku agar
Clara tak bertanya lagi.
“Kau menolak coklat? Bukankah itu makanan kesukaanmu?”
Ternyata itu masih menjadi pertanyaan Clara. Aku menghela napas untuk bersabar.
“Aku tidak suka menerima coklat dari orang yang tidak aku
kenal, kau tahu itukan?”
“Hmmmm… yay a kau memang selalu seperti itu” seraya melahap
rotinya, “Dia sangat tampan Viola dan terlihat sangat baik, dari senyumnya. Aku
pikir dia tidak akan berlaku jahat padamu” ujar Clara. Aku hanya mengangkat
bahu, malas untuk menanggapinya. “Kau ini terlalu cuek, tidak pantas dengan
wajahmu yang cantik dan penampilanmu yang anggun” kembali Clra mengoceh.
Kembali aku menarik napas “Clara, hentikan ucapanmu,
membuatku malas menghabiskan makananku saja” ucapku dingin.
“Aku ingin minta sau
permintaan kepadamu setelah itu aku akan diam”
“Apa?”
“Jika kau bertemu dengannya lagi, kau harus berkenalan
dengannya” Ujar Clara dengan senyum menggoda. Aku mengernyitkan keningku,
bingung dengan permintaan Clara yang tidak masuk akal itu.
“Aku tidak mau” Tukasku tegas.
“Ayolah Viola.. sepertinya dia juga ingin berkenalan denganmu”
“Hish! Tau darimana kau?”
“Hmm.. aku bisa membaca ekspresi wajahnya saat melihat
wajahmu. Dia begitu banyak harapan untuk mendekatimu” Ujar Clara dengan lamaran
anehnya.
“Sudahlah… kau ini terlalu berharap sekali aku bisa
mengenalnya!”
“Aku yakin kalian akan selalu bersama” Kembali Clara
meyakinkan ramalannya itu. Aku hanya bersikap acuh tak acuh. Lebih baik aku
menikmati minumanku daripada membahas yang tidak-tidak.
***
Didalam Bis, aku tidak membaca buku bacaanku lagi. Aku
sedang mencoba rubikku yang tak pernah selesai dengan baik.
Bis lalu berhenti, membuat rubikku hamper saja jatuh, lalu Bis kembali berjalan. Tiba-tiba seseorang duduk di sebelahku, aku malas melihatnya. Lebih baik aku menyelesaikan rubik yang menyebalkan ini, walau menyebalkan entah kenapa permainan ini membuatku ingin terus memutar otakku.
Bis lalu berhenti, membuat rubikku hamper saja jatuh, lalu Bis kembali berjalan. Tiba-tiba seseorang duduk di sebelahku, aku malas melihatnya. Lebih baik aku menyelesaikan rubik yang menyebalkan ini, walau menyebalkan entah kenapa permainan ini membuatku ingin terus memutar otakku.
“Hai” Sapa orang yang duduk di sebelahku tadi. Suara itu?.
Aku lalu meliriknya.
“Kau lagi?” Tanyaku, tak menyahut sapaanya.
“Ah ya, kita bertemu lagi. Mungkin akan begini selamanya,
karna jalur rumahmu searah dengan kontrakanku” Jawabnya, lalu tersenyum. Lelaki
ini sangat tampan, apalagi ketika dia tersenyum, begitu arogan.
Aku hanya tersenyum masam, aku kembali melanjutkan
permainanku yang terpotong. Selama bermain aku terlalu banyak menggeram kesal.
“Hahahaha, kau ini terlalu ceroboh” Ketus lelaki itu,
menertawaiku. Aku meliriknya dengan tatapan kesal. “Boleh aku mencobanya?”
pintanya. Berani sekali dia meminjam rubik dariku. Dia tadi menertawaiku, aku
akan menertawainya jika dia memang tidak bisa sepertiku. Aku pun memberikan
Rubik itu.
Tidak sampai sepuluh menit dia sudah menyelesaikan Rubikku
dengan sempurna. Begitu lancar tanpa ada hambatan sama sekali. Aku ternganga
melihat apa yang sudah dia lakukan.
“Hey, kau ingin kuajari?” tawarnya dengan senyuman itu. Lalu
dia memberikan rubik itu padaku.
“Ah.. tidak, trimakasih” lagi-lagi aku menolak tawarannya.
Aku terlalu canggung.
“hmmm… baiklah” terdengar pasrah.
***
(Adit’s POV)
“Adit, bagaimana?” Tanya Ray padaku yang baru saja sampai di
kamar.
“Aku sudah diterima” jawabku menyeringai.
“Benarkah?!” Balasnya terlihat tak percaya.
“Tentu saja” aku meyakinkan.
“Bagaimana caranya?” pertanyaan Ray sungguh membuat keningku
mengerut, pertanyaan yang sangat aneh. Tiba-tiba dia terkekeh, “Aku tidak menyangka
kau akan diterima” lanjutnya meledek.
“Sial! Kau pikir aku lelaki bodoh, huh?! Aku hanya memberi
suratku lalu aku dengan mudahnya diterima” jelasku. Kulihat Ray terbangun dari
tidurannya lalu menatapku ternganga.
“Wah kau ini tidak jantan sekali Adit, seharusnya kau bicara
langsung saja” ucapnya, membuatku tak mengerti maksud dari ucapannya.
“Tunggu-tunggu… maksudmu menanyakan ‘bagaiman?’ itu apa?”
tanyaku untuk memperjelas.
“Tentang wanita di Bi situ” jawab Ray termangu.
“Ash… bodoh! Aku kira kau menanyakan tentang lamaran
kerjaku”
“hahahaha maafkan aku.. aku terlalu bersemangat mengetahui
hubunganmu dengannya”
“Hubungan apa? Aku tidak berhubungan dengannya. Mengetahui
namanya saja aku tidak tahu” mirisku.
“Ah kau ini terlalu payah di hadapan wanita, mengajak
berkenalan saja tidak berani” ejek Ray.
Aku mendekati wajah Ray dengan tatapan kesal, “Berapa banyak
wanita yang sekarang kau kenali, huh?” Tanyaku menantang, wajah Ray memucat.
Tentu saja dia tidak bisa menjawab. Ray tidak handal untuk mendekati seorang
wanita, dia yang sebenarnya payah. Aku memundurkan kembali wajahku.
“Lalu kenapa kau susah mengahadapi dia?” pertanyaan Ray
membuatku terdiam. Dia benar, kenapa aku begitu takut untuk berkenalan
denganya?, “Dia terlalu dingin” gumamku. Ray hanya tertegun.
***
Hari ini adalah hari pertama kali aku bekerja. Sebuah
perusahaan yang cukup terkenal dan aku hanya menjabat sebagai karyawan biasa,
sedangkan Ray sekertaris di Perusahaan terkemuka itu, dia memang selalu
beruntung. Ray bilang pemimpin perusaan itu adalah seorang wanita yang sangat
cantik, tapi begitulah Ray tidak bisa mendekatinya.
Setibanya di tempat kerja, aku masuk ke dalam. Berjalan
penuh dengan kebiwaanku.
“Selamat pagi, Pak Adit” sapa seorang resevsionis padaku
dengan begitu ramahnya, aku membalas dengan senyum. Barukali ini aku disapa
dengan penuh hormat.
Aku langsung meduduki tempat kerjaku. Ku lihat sudah tersedia computer, dan tempat-tempat untuk aku menyimpan pekerjaanku. Aku tersenyum senang.
Aku langsung meduduki tempat kerjaku. Ku lihat sudah tersedia computer, dan tempat-tempat untuk aku menyimpan pekerjaanku. Aku tersenyum senang.
“Kau karyawan baru itu?” Tiba-tiba seorang perempuan yang
begitu cantiknya, menyapaku. Aku tahu dia pemimpin perusahaan ini, dengan
hormat aku berdiri.
“Iya, saya karyawan baru” jawabku seraya tersenyum.
“hmm.. pasti kau sudah tahu aku ini siapa” ujarnya. Aku
mengangguk. “Kenalkan aku Keisha” ujarnya, lalu mengulurkan tangan padaku.
“saya Adit bu” balasku ramah.
“Ow… kau jangan memanggilku dengan sebutan ibu,oke?
Terdengar seperti sudah terlalu tua, aku kurang suka” Tukasnya. Aku mengangguk
menurut. " Berapa usiamu Adit?" kembali dia bertanya mengenai usiaku.
"hmmm.. dua puluh enam tahun.. ng. Keisha" jawabku sedikit sungkan memanggil namanya.
"Baiklah, aku pikir kau akan bekerja dengan baik. senang berkenalan denganmu Adit"
"ya tentu, saya pun begitu" balasku tersenyum.
Keisha pun pergi meninggalkan meja kerjaku.
TBC...
gantung banget, nanti lanjut deh~
0 komentar:
Posting Komentar